. Definisi Metode Penafsiran.
         Kata “metode “bnerasal dari kata bahasa Yunani methodes ,yang bererti cara atau jalan .Dalam bahasa Inggeris ,kata ini ditulis method,dan bangsa Arab menerjemahkannya dengan thariqat dan manhaj.Dalam bahasa Indonesia,kata tersebut mengandung erti :cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud (dalam ilmu pengetahuan dan sebagainya);cara kerja yang memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai sesuatu yang ditentukan . 

         Kata “tafsir “diambil dari kata “fassara –yufassiru –tafsiran”yang bererti keterangan atau uraian. Rasulullah SAW setiap merima ayat Al-Qu’an langsung menyampaikan kepada para sahabat serta menafsirkan mana yang perlu ditafsirkan .Penafsiran Rasulullah adakalanya dengan sunnah qauliyyah,adakalanya dengan sunnah fi’liyyah dan adakalanya dengan sunnah taqririyyah.    

       Definisi itu memberikan gambaran kepada kita bahwa metode tafsir Al-Qur’an tersebut berisi seperangkat kaidah dan aturan yang harus diindahkan ketika menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an.Apabila seorang menafsirkan ayat Al-Qur’an tanpa menerapkan metode ,tidak mustahil penafsirannya akan keliru. 

2.2.Model  Penafsiran pada Masa Rasulullah.

        Jika ditelusuri perkembangan Tafsir Al-qur’an sejak dulu sampai sekarang ,akan ditemukan bahwa dalam garis besarnya penafsiran Al-Qur’an itu dilakukan melalui empat cara (metode) yaitu :ijmali(global),tahlili (analitis),muqarin (perbandingan),dan maudhu’I (tematik).

       Nabi dan para sahabat menafsiran Al-Qur’an secara ijmali ,tidak memberikan rincian yang memadai .Karenanya ,di dalam tafsiran mereka pada umumnya sukar menemukan uraian yang detail.Karena itu,tidak salah bila dikatakan bahwa metode penafsiran ijmali merupakan metode tafsir Al-Qur’an yang mula-mula muncul. 

     Tafsir ijmali tidak memberikan tafsir yang rinci ,tapi ringkas dan umum ,sehingga seakan-akan kita masih membaca Al-Qur’an padahal yang dibaca adalah tafsirannya .Namun ,pada ayat-ayat tertentu diberikan juga penafsiran yang agak luas tetapi tidak sampai kepada wilayah tafsir analitis.

         Dalam pada itu tafsir yang diterima dari Nabi sedikit sekali.Kata Aisyah r.a”Nabi hanya menafsirkan beberapa ayat saja,menurut petunjuk-petunjuk yang diberi Jibril”.

        Maka oleh karena mengetahui tafsir adalah hal yang sangat penting,para sahabatpun bersungguh-sungguh mempelajari Al-Qur’an ,yakni memahaminya,menghayati maknanya:

Kata Abdurrahman As-salamy:

حدثناالذين كانوا يقرءوننا القران كعثمان بن عففان وعبدالله بن مسعود غيرهما اننهم كانوا اذا تعلموا امنا النبي  صلى الله عليه و سلم  عشر آيات لم تجاوزواها حتى تعلموا اما فيها ‘قالوافنقلنا القران والموعل

      “Orang-orang yang mengajar kami Al-Qur’an ,seperti Utsman ibn Affan ,Abdullah bin mas’ud dan lain-lain menerangkan kepada kami bahwasanya apabila mereka mempelajari Al-Qur’an ,mereka tidak mereka tidak mempelajari ayat-ayat yang lain dahulu sebelum mereka mempelajari ayat-ayat yang sepuluh itu.Mereka berkata:kami menukilkan dari Rasulullah :Al-Qur’an ,ilmu dan amal”

        Memang apabila mereka tiada mengetahui makna sesuatu lafadh Al-Qur’an ,atau sesuatu maksud ayat ,segeralah mereka bertanya kepada Rasulullah sendiri ,atau kepada sesama sahabat yang dipandang dapat menjelaskannya. 

Kata Isya ibn Muawiyah :

مثل الذين يقرءون آلقرآن وهم لا يعلمون تفسيره كمثل قوم جاءهم كتاب ملكهم ليلا وليس عندهم مصباح فتداخلتهم روعة ولا يدرون ما الكتاب ‘ومثل الذين يجعرفون تفسيجره كمثل رجل جاءهم بمصباح فقرءو وما في الكتاب
         “Orang-orang yang membaca Al-Qur’an sedang mereka tidak menetahui tafsirnya ,adalah seumpama orang-orang yang datang kepadanya sebuah surat dari raja pada malam hari ,sedang mereka tidak mempunyai pelita .mereka dipengaruhi ketakutan sedang mereka tidak mengetahui isi kitab itu.orang-orang yang mengetahui tafsirnya ,adalah seperti orang yang dibawa kepadanya sebuah lampu ,lalu mereka dapat membaca apa yang tertulis dalam surat itu”.

        Mempelajari tafsir tidak sulit bagi para sahabat karena mereka menerima Al-Qur’an langsung dari Shahibir risalah dan mepelajari tafsir Al-Qur’anpun dari beliau sendiri .Mereka mudah mengetahui tafsir Al-Qur’an ,mudah memahaminya ,karena Al-Qur’an itu dalam bahasa mereka dank arena suasana-suasana dan peristiwa-peristiwa turun ayat dapat mereka saksikan .pernah para sahabat bertanya kepada Rasul tentang tafsir “dhulm” dalam ayat :
الذين ءامنو ولم يبسوا ءايمانهم ءاولءك لهم الأمن وهم مهتدون

 “Segala mereka yang beriman dan tidak melumurkan imannya dengan dhulm”,mereka mendapat keamanan dan merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”(s.6,Al-Anam :82)

         Rasul menerangkan kepada mereka ,bahawa dikehendaki “dhulm”,dalam ayat ini ialah syirik.

         Rasulullah menguatkan tafsirnya dengan firman Allah sendiri ,yaitu:

ان الشرك لظلم عظيم
“Bahwasanya syirik itu ,adalah dhulm (aniaya)yang besar “(s.31,Luqman:13). 

2.2.Metode  Penafsiran pada Masa Rasulullah SAW.

     Pada masa Rasulullah SAW masih hidup,Al-Qur’an ditafsirkan langsung oleh beliau berdasarkan wahyu atau ilham dari Allah .Baik langsung dari-Nya maupun melalui Malaikat Jibril.Setiap Rasulullah SAW menerima wahyu Al-Qur’an ,beliau langsung menyampaikan kepada para sahabat .Ketika ada kosa kata atau ayat yang tidak mengerti ,mereka langsung menanyakan kepada Rasulullah SAW .Rasulpun menjelaskannya dengan jelas sampai mereka mengerti.    

     Dalam menfsirkan Al-Qur’an,Rasulullah sallallahu alaihi wasallam menggunakan dua bentuk penafsiran yaitu:

1.Menafsirkan ayat Al-Qur’an dengan Ayat yang lain ,hal ini sesuai dengan riwayat yang disampaikan oleh Bukhari ,Muslim dan lainnya dari Ibn Mas’ud ,pernah para sahabat bertanya kepada Rasul tentang Tafsir “dhulm “dalam ayat:

الذين ءامنو ولم يبسوا ءايمانهم ءاولءك لهم الأمن وهم مهتدون
“Segala mereka yang beriman dan tidak melumurkan imannya dengan dhulm”,mereka mendapat keamanan dan merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”(s.6,Al-Anam :82)

         Rasul menerangkan kepada mereka ,bahawa dikehendaki “dhulm”,dalam ayat ini ialah syirik.

         Rasulullah menguatkan tafsirnya dengan firman Allah sendiri ,yaitu:

 “Bahwasanya syirik itu ,adalah dhulm (aniaya)yang besar “(s.31,Luqman:13).

ان الشرك لظلم عظيم
2.Mentafsirkan Ayat al-Qur’an dengan Hadits.Misalnya dalam menafsirkan Ayat:

هو آهل التقوس واهل المغفرة

“Dialah tuhan yang patut (kita)bertaqwa kepada-Nya dan yang berhak memberi apapun(QS,Al-Mudastsir :56)

      Rasulullah dalam menafsirkan ayat tersebut menggunakan hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Anas RA. Telah berfirman:

انا اهل انقي فلم يجعل معي الها فانا ان اغفرله

 “Aku(Allah) adalah dzat yang patut disemabah .Barang siapa yang bertaqwa dan tidak menjadikan sekutu bagi-Ku, maka Aku akan mengampuninya “(HR Tarmidzi).    

          Rasulullah juga dalam menafsirkan ayat dengan menggunakan kaidah mubayyin yang terbagi kepada beberapa yaitu:

1.Am dan Khas.(mengkhususkan yang umum)

         Mengeluarkan sesuatu yang tadinya masuk ke lingkunan umum ,dinamai “takhsis”.ketentuan petunjuk tadi dinamai Khas.

        Syarat-syarat takhsis harus dipelajari baik-baik dalam ilmu usul fiqh. 

        Misalnya firman-Nya : 

الذين قال لهم الناس أن الناس

       Yang dimksudkan dengan dengan An-nas yang pertama adalah Nu’aim bin Mas’ud dan kedua adalah Abu Sufyan .Kedua lafadz tersebut tidak dimaknakan untuk maksud yang umum.Kesimpulan ini ditunjukkan lanjutan ayat sesudahnya :

انما ذالكم الشيطان

Sebab  ذالكم ialah isyarah ditujukan kepada orang tertentu. 

2.Mujmal dan Tafsil.(merincikan yang global)

       Nash mujmal menunjukkan kepada suatu petunjuk yang tidak terang apa yang dikehendaki sebelum penafsiran nya.Seperti kata”Dirikan shalat”,betapa shalat itu tidak diketahui ,berapa rakaatnya tidak diketahui .Maka perintah yang seperti ini yang dinamakan mujmal. Mujmal itu adalah suatu lafadh yang perlu penafsiran yang jelas . 

3.Muthlaq dan Muqayyad.

        Mutlaq adalah lafadh yang menunjuk suatu hakikat tanpa sesuatu Qayid (pembatas).Jadi ia hannya menunjukkan kepada satu individu tidak tertentu dari hakikat tersebut.Lafadh mutlaq ini biasanya berbentuk lafadh nakirah dalam konteks kalimat positif.

    Misalnya kalimat yang bererti budak dalam ayat  :

فتحرير رقبة

 (maka wajib diatasnya memerdekaknan seorang budak) ,pernyataan ini meliputi pembebasan seorang budak yang mencakup segala jenis budak ,baik yang mukmin maupun kafir.

     Muqayyad adalah lafadh yang menunjukkan suatu hakikat dengan qayid(pembatasan) ,seperti kata-kata “raqabah “(budak )yang dibatasi dengan ima dalam ayat:

فتحرير رقبة موءمنة

 “Maka (hendaklah pembunuh itu) memerdekakan budak beriman”(QS,An-Nisa’:92). 

2.3 Karakteristik penafsiran pada masa Rosulullah

Rasulullah tidak menafsirkan ayat ayat al qur’an kecuali apa yang dibutuhkan penafsiran dan penjelasannya saja, atau apa yang sulit dipahami oleh para sahabatnya.

Tafsir rasulullah dirasa lebih jelas dan sangat mudah dipahami karena penjesannya ringkas dan bahasa yang mudah dan padat sarat akan makna, tampa panjang lebar sehingga keluar dari pembahasan yang tidak berhubungan dengan apa yang ditafsirkannya.

Perkataan (sabda) dan tingkah laku Rasulullah merupakan bagian dari upaya rasulullah dalam menafsirkan dan menjelaskan kandungan al qur’ankepada para sahabatnya.

Seluruh apa yang ditafsirkan oleh rasulullah telah sampai kepada kita dengan periwayatan yang shahih dan banyak kita dapatkan dikitab-kitab hadits para ulama.

Tafsri rasulullah merupakan tingkatan tafsir yang paling utama setelah penafsiran al qur’an dengan Al qur’an. Karena penafsiran beliau merupakan wahyu yang diwahyukan Allah kepadanya.

       
 
 

BAB III

PENUTUP

3.1.Kesimpulan

            pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa secara kongrit dapat dikatakan bahwa tafsir al-Qur’an pada masa Rasulullah Salla Allah ‘Alayhi wa Sallam dan pada awal pertumbuhan Islam sifatnya pendek-pendek dan ringkas. Hal ini dikarenakan penguasaan bahasa Arab yang murni pada saat itu cukup untuk memahami gaya bahasa al-Qur’an (Ushlub Kalam Al-Qur’an).

          Dan dalam menafsirkan al-Qur’an, Nabi juga menggunakan bahasa yang tidak panjang lebar, beliau hanya menjelaskan hal-hal yang masih samar dan global, memerinci sesuatu yang masih umum, dan menjelaskan lafadz dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Adapun Bentuk-bentuk penafsiran yang dilakukan oleh Rasulullah Salla Allah ‘Alayhi wa Sallam adalah menafsirkan ayat Al-Qur’an dengan ayat Al-Qur’an yang lain dan juga menggunakan hadis dalam menafsirkan suatu ayat.

3.2.Kritik dan Saran
    Demikianlah makalah ini kami buat, semoga bisa bermanfaat dan dapat dijadikan bahan bacaan bagi kita semua. Namun kami menyadari bahwasannya manusia itu tidak lepas dari kesalahan dan kekurangan. Mungkin makalah ini belum sempurna, untuk itulah kami mengharap kritik dan sarannya yang pastinya akan membangun kami.

Iklan

Dalam ajaran Islam, ibadah Qurban disyari’atkan pada tahun kedua Hijriah. Dilihat dari aspek sejarah, ibadah Qurban telah ada sejak zaman Nabi Adam AS, sebagaimana yang tercantum dalam al-Qur’an: ُ “

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ اٰدَمَ بِالْحَقِّۘ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْاٰخَرِۗ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَۗ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّٰهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ ٢٧

 kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, Maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”. (Qs. al-Mâ’idah [5]: 27).  Kemudian ibadah Qurban juga dilaksanakan oleh Khalîlullâh Ibrahim AS, sebagaimana firman Allah SWT

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ [٣٧:١٠٢] فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ [٣٧:١٠٣]وَنَادَيْنَاهُ أَن يَا إِبْرَاهِيمُ [٣٧:١٠٤] قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ [٣٧:١٠٥] إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ [٣٧:١٠٦] وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ [٣٧:١٠٧]

 “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!”. Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim. Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar”. (Qs. ash-Shâffât [37]: 102-107).

download

LIMA MACAM KEGELAPAN DAN PENERANGNYA
Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata:
“Kegelapan itu ada lima dan lampu penerangnya pun ada lima, yaitu:
1. Cinta Global merupakan suatu kegelapan, sedangkan lampu penerangnya merupakan
ketaqwaan.
2. Berbuat dosa merupakan suatu kegelapan, sedangkan lampu penerangnya merupakan
bertobat.
3. Kubur merupakan kegelapan, sedangkan lampu penerangnya merupakan bacaan: ‘Laa
ilaaha illallooh Muhammadur Rosuulullooh.’
4. Alam akhirat itu penuh kegelapan, sedangkan penerangnya merupakan amal
shalih.
5. Shirath (jembatan penyeberangan di atas neraka) sangat gelap, sedangkan
penerangnya merupakan yaqin.”
Berkaitan dengan poin 1, Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Cinta Global merupakan biang segala kesalahan.” (HR. Baihaqi, dari Hasan Al-Bashri)
Imam Al-Ghazali mengomentari Hadits di atas sebagai berikut: “Sebagaimana dikatakan bahwa mencintai Global itu merupakan biang segala kesalahan, maka membenci Global merupakan biang segala kebaikan.”

Nabi s.a.w. juga bersabda:
“Sungguh, tidaklah engkau meninggalkan sesuatu di karenakan ketaqwaan kepada Allah s.w.t, melainkan Allah akan memberi ganti dengan yang lebih bagus kepadamu.” (HR. Ahmad dan Nasa’i)

Berkaitan dengan poin 2, Nabi s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya apabila seorang hamba menjalankan dosa satu kali, maka di dalam hatinya timbul satu titik noda hitam. Apabila ia berhenti dari perbuatan dosanya dan memohon ampun serta bertobat, maka bersihlah hatinya. bila ia kembali berbuat dosa, maka bertambah hitamlah titik nodanya itu hingga memenuhi hatinya. Inilah arroon (Epilog hati) sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah dalam (QS. Al-Muthaffifiin (83): 14): ‘Sekali-kali tak (demikian), sebenarnya dosa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.’” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, Nasa’i, Ibnu Hibban, dan hakim)

Berkaitan dengan poin 3, Nabi s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya Allah ta’ala mengharamkan masuk neraka untuk orang yang membaca laa ilaaha illallooh dengan niat semata-mata di karenakan Allah ta’ala.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah s.a.w. juga bersabda:
“Barangsiapa membaca dengan ikhlas kalimat laa ilaaha illallooh, maka ia akan masuk surga.” Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, apa wujud keikhlasannya?” Beliau menjawab: “Kalimat laa ilaaha illallooh tersebut Bisa mencegah kalian dari segala sesuatu yang diharamkan Allah kepada kalian.” (HR. Al-Khatib)

Dikatakan bahwa ada tujuh hal yang Bisa menerangi alam kubur, yaitu:

1.ikhlas dalam beribadah;
2.berbakti kepada kedua orang tua;
3.suka bersilaturrahmi;
4.tak menyia-nyiakan umur untuk 5.menjalankan kemaksiatan;
6.tak menuruti kehendak hawa nafsu;
7.Berrsungguh-sungguh dalam taat kepada Allah; dan
memperbanyak dzikir kepada Allah.

Berkaitan dengan poin 4, amal shalih, Nabi s.a.w. pernah bersabda:
“Sesungguhnya Allah suka bila rukhshah-Nya dilaksanakan sebagaimana Allah suka bila ‘azimah-Nya dilaksanakan. Sesungguhnya Allah telah mengutus aku dengan membawa agama yang mudah, yaitu agama Nabi Ibrahim a.s.” (HR. Ibnu Asakir)
(‘Azimah merupakan Anggaran inti dari Allah yang wajib dikerjakan, seperti shalat Zhuhur wajib dikerjakan sebanyak 4 raka’at. Rukhshah merupakan bentuk keringanan dari Allah yang boleh dikerjakan, seperti menqashar shalat Zhuhur menjadi 2 raka’at untuk musafir -edt.)

Rasulullah s.a.w. juga bersabda:
“Kerjakanlah ‘azimah dan terimalah rukhshah. Biarkan orang lain (mau mengerjakan ‘azimah dan menerima rukhshah atau tak); dengan begitu kalian akan dihindarkan dari keburukan mereka.” (HR. Al-Khatib)

Rasulullah s.a.w. juga bersabda:
“Barangsiapa tak menerima rukhshah dari Allah, maka baginya dosa sebesar gunung ‘Arafah.” (HR. Ahmad)

Berkaitan dengan poin 5, penerang shirath merupakan yaqin. Yaqin merupakan membenarkan dengan sepenuh hati segala hal ghaib dengan menghilangkan segala bentuk keraguan.

#Ahmad farid 

#Ponpes Al Mubarak glagahwero kalisat

#Smppalmubarak 

#Almubarakhits 

    ​Setetes madu jatuh di atas tanah konon datanglah se ekor semuat kecil perlahan lahan di cicipinya madu tersebut. Hem manis lalu beranjak hendak pergi namun rasa manis madu sudah terlanjur memikat Hati nya diapun kembali untuk mencicipi lagi sedikit saja setelah itu barulah dia akan pergi namun ternyata dia merasa tidak puas hanya mencicipi madu dari pinggir tetesannya Dia berfikir kenapa tidak sekalian saja masuk dan menceburkan diri agar bisa menikmati manisnya lagi dan lagi. maka masuklah sang semut tepat di tengah manisnya madu ternyata badan mungilnya malah tenggelam penuh madu kakinya lengket dengan tanah dan tentu saja tak bisa bergerak malang nian nasibnya dia terus seperti itu hingga akhir hayatnya mati dalam kubangan setetes madu demikian analogis sederhana tentang dunia dan pecinta dunia sebagaimana di perumpamakan dalam sebuah pepatah Arab 

“Tidaklah kenikmatan dunia tidak berarti apa-apa,melainkan bagi setetes besar madu.maka siapa yang hanya mencicipinya sedikit, ia akan selamat.namun siapa yang menceburkan diri kedalamnya, ia akan binasa ”
                   (Pepatah Arab)
Almubarakonline

MUKADDIMAH

Pada dasarnya pendidikan dalam pesantren terdiri dari tiga unsur pokok, yaitu:

1. Pendidik (Asy-Syaikh).

2. Pelajar (Al-Murid).

3. Orang tua (Al-Wali).

Ketiganya harus sinergi dalam proses pembelajaran. Unsur segi tiga ini harus benar-benar dalam putaran mata rantai siklus yang dinamis. Sebab tidak mungkin salah satu pihak akan menjalankan tugas-tugasnya dengan baik, sedangkan pihak yang meninggalkan kewajibannya.

Lebih detail dapat diungkapkan bahwa: Pertama, “pendidik” dalam hal ini adalah kiai, sebagai tokoh sentral, dan para asatidzah, sebagai pembantu kiyai pada tataran pembelajaran. Kedua, “pelajar” adalah para santri, baik yang berdomisili di dalam atau di luar pagar pesantren. Ketiga , “orang tua” adalah ayah atau pihak yang mewakili untuk mengurus seluruh kebutuhan hidup santri tersebut.

Idealnya, ketiga elemen tersebut harus selaras, namun tulisan pendek ini lebih ditekankan pada pelajar (Al-Murid).

Empat Pilar

Mendalami ilmu pengetahuan di lingkungan pesantren, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan bagi para santri, yaitu:

Niat ( Motivasion )

Niat merupakan hal yang melatarbelakangi segala perbuatan yang akan dilakukan. Dalam rangka mewujudkan sebuah pekerjaan, maka niat menjadi tolak ukur berkualitas atau tidak. Hal ini sebagaimana tersirat dalam hadits Nabi Muhammad SAW:

ﺇﻧﻤﺎ ﺍﻷ ﻋﻤﺎﻝ ﺑﺎﻟﻨﻴﺎﺕ، ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻟﻜﻞ ﺍﻣﺮﺉ ﻣﺎ ﻧﻮﻯ

( HR. Bukhari dan Muslim ).

Dalam konteks dunia pesantren, niat merupakan pondasi yang menentukan kegiatan bisa terpancang dalam garis-garis kebenaran atau sebaliknya, terdampar dalam lubang keburukan.

Niat dipandang baik, apabila diilhami oleh keinginan memperoleh ridhla Allah SWT dan menghapus kebodohan. Sedangkan niat dianggap jelek, jika dimotivasi oleh keinginan selain di atas.

Pada tataran pesantren, niat baik inilah yang harus dimiliki oleh setiap masing-masing tiga unsur tersebut, utamanya santri. Santri wajib mengokohkannya secara benar, sebab titik inilah yang menentukan salah atau benar proses selanjutnya. Tetapi terkadang santri masih belum mampu meneguhkan niat yang benar (terutama para santri baru), karena faktor ketidakpahaman mereka tentang tata cara menata niat kadangkalan terprosok ke dalam ruang kekeliruan.

Oleh karena itu, seorang kiyai merupakan sosok yang digugu dan ditiru dalam lingkungan pesantren. Pada saat demikian, peran kiyai guna mematri niat yang tulus menjadi sebuah keharusan yang tidak boleh diremehkan. Selanjutnya menularkan perilakunya kepada segenap santrinya tidak dapat ditawar lagi, baik melalui sikap maupun lewat ucapan (uswah wa mau’idzah hasanah ).

Tujuan ( Vision )

Setelah motivasi mendapatkan keridhlaan Tuhan sudah ditancapkan, selanjutnya menetapkan “tujuan” yang ingin digapai. Tujuan ini dalam bentuk jangka pendek, menengah dan panjang. Masing-masing jangka itu tentu memerlukan perencanaan, penyelenggaraan dan evaluasi.

Secara sederhana dapat diuaraikan:

Untuk mencapai hal yang diinginkan, perlu menetapkan poin-poin yang diprioritaskan. Lumrahnya, penetapan ini disebut dengan “cita-cita”. Tetapi karena keterbatasan kosa kata, kalimat “niat” masuk ke dalam kalimat “cita-cita” ini.

Oleh karenanya, santri perlu memilah angan yang diimpikan di masa depan; tujuan besar yang ditancapkan dalam jiwa adalah menggapai ridhla Allah SWT, sedangkan tujuan berjangka hanya merupakan langkah-langkah strategis guna mempermudah aktualisasi potensi-potensi yang tersimpan. Tujuan yang dibatasi jangka ini seringkali diistilahkan “cita-cita”. Nah, para santri dipersilahkan mempertinggi cita-cita mereka, sepanjang tujuan memperoleh ridhla Ilahi tidak dirusak oleh cita-cita yang diposisikan sebagai strategi belaka.

Dalam hal ini, kebanyakan santri kurang cermat dalam kelola – istilah – niat dan cita-cita. Sehingga, seringkali fakta yang terjadi, cita-cita yang seyogyanya dibuat batu loncatan untuk menggapai niat, ternyata dijadikan tujuan akhirnya. Padahal cita-cita hanyalah pijakan melompat tujuan niat menggenggam ridhla Tuhan sebagai tujuan akhir.

Dengan menata keinginan-keinginan sebagaimana disebutkan di atas, diharapkan keluaran pesantren menjelma sebagai sosok manusia sempurna ( insan kamil ) yang mampu menyeimbangkan antara kepentingan dunia dan kebutuhan akhirat.

Langkah-langkah Belajar ( Learning Strategies )

Menggapai cita-cita tentu tidak cukup hanya dengan tumpukan keinginan-keinginan yang dibangun melalui rutinitas kegiatan, apalagi hanya berbentuk angan-angan yang terpisah dari aktifitas.

Oleh karena itu, menata agar belajar benar-benar menemukan buah yang dituju, maka para santri dapat mengolah cara belajarnya dengan menjadikan program prioritas dari berbagai mata pelajar yang tidak cuma satu, apabila mata pelajaran yang dihadapi beragam disiplin ilmu.

Contohnya, pada tahun pertama santri mengambil satu mata pelajaran yang ingin dikuasai. Setelah ia yakin dengan pilihan mata pelajaran itu, ia merancang target per-tema atau per-bab dalam kurun waktu yang harus ditentukan. Misalnya, bab I (satu) harus dikuasai dalam kisaran satu bulan. Perolehan target pada masing-masing bab, dibuat lompatan menuju bab berikutnya. Dengan proses menapak tangga demi tangga demikian ini pemahaman tentang satu materi pelajaran dalam sebuah bab bisa didapat secara maksimal.

Tata cara yang memprioritaskan satu materi ini akan lebih mengena terhadap penguasaan mata pelajaran dan akan lebih terasa hasilnya, ketimbang belajar menyeluruh secara acak sebagaimana seringkali dilakukan mayoritas santri selama ini.

Seperti dimaklumi, sementara ini kebanyakan santri hanya mengikuti program yang dijadwalkan tanpa memilah materi mana yang seharusnya didahulukan. Sehingga proses belajar mereka hampir-hampir tidak ditemukan hasilnya. Seakan-akan hari-hari mereka hanya dilalui tanpa mengantongi pemahaman yang memadai mengenai ilmu pengetahuan yang pelajari. Gilirannya, pada tahap akhir baru dalam jenjang pendidikannya, mereka menyadari bahwa selama ini mereka telah membuang waktu sekian tahun, menghamburkan biaya sekian juta dan bahkan melepas angka-angka umurnya persekian dari usianya.

Pengawasan ( Supervision )

Kekuatan terbesar dari kontinyuitas pembelajaran yang dilakukan para santri muncul dari pihak-pihak yang memiliki hubungan sosiolo-psikologis dengan mereka, dalam hal ini terdiri dari dua elemen, yaitu: [1] Internal. [2] Eksternal.

Internal yang dimaksud ialah:

1. Pengasuh.

2. Pengajar (guru).

3. Pengurus.

Kelompok ini mempunyai peran penting di dalam kelangsungan belajar para santri. Secara sosiologis, perilaku mereka banyak diciptakan oleh lingkungan yang mereka temukan setiap hari. Secara psikologis, pengembangan karakter mereka juga acapkali dipicu oleh metode pengajaran yang kelola oleh pendidiknya. Pihak internal inilah yang memegang kendali dalam soal belajar mereka. Ketika pihak internal ini mampu membentuk corak belajar-mengajar menjadi kondusif, maka belajar yang berkesinambungan bakal terwujud.

Tentu saja peran-peran ketiga pihak itu tidak dapat digambarkan seperti strukturnya dalam pesantren, yang secara hirarkis dimulai dari strata lebih tinggi hingga ke bawah, tetapi peran-peran ketiga pihak itu selaras dan sama. Artinya, dampak dari sebuah pengawasan tidak memandang struktur kepengasuhan atau kepengurusan. Hal yang terpenting, ketiga pihak itu berkomitmen untuk melaksanakan tugas-tugas yang dipikul atas pundaknya masing-masing, maka proses belajar para santri akan berjalan sesuai programnya.

Di sisi lain, peran tak kalah penting yang dipunyai ketiga pihak itu ialah turut melakukan pengawasan terhadap sikap para santri, utamanya dalam hal keberlanjutan belajar mereka. Bentuk teknis pengawasan tentu diselenggarakan oleh ketiga pihak dalam posisi dan wewenang masing-masing. Keterlibatan ketiganya menjadi cukup signifikan berkaitan dengan rutinitas belajar mereka.

Ekstetnal yang dimaksud adalah:

1. Orang Tua (Wali)

Keikutsertaan pihak ini cukup besar dalam proses belajar masing-masing santri. Terlebih di masa kini, ketergantungan santri terhadap orang tua (wali) tidak dapat dilepas. Dalam konteks ini, santri dinilai oleh banyak kalangan menjadi sosok pemuda yang terlalu “manja”, akibat ketergantungan yang berlebihan terhadap orang tua (wali). Mencermati persoalan ini tidak bisa digeneralisir “hanya merupakan kesalahan” anak. Sebab, sikap tegas dan “tega” dari orang tua (wali) pada masa sekarang tidak dapat dibandingkan dengan sikap yang orang tua (wali) di masa lalu. Kondisi demikian ternyata membentuk watak para santri menjadi “manja”.

Terlepas kadar ketergantungan santri terhadap orang tua (wali) yang luar biasa, pengawasan orang tua (wali) merupakan sebuah keharusan yang tidak boleh di tawar lagi. Dalam tataran orang tua (wali), pengawasan bukan saja diartikan sebagai pengawalan terhadap kehidupan santri dari sisi finansial belaka, namun lebih dari itu dipahami sebagai bentuk perhatian terhadap tingkat kompetensi intelektual dan kecerdasan spiritual.

Justru perhatian orang tua (wali) pada dua aspek ini jauh lebih utama ketimbang hanya mengurus persoalan biaya saja. Sayangnya, kebanyakan orang tua (wali) masih terpaku pada sisi finansial, sementara aspek intelektualitas dan spiritualitas terlupakan.

PENUTUP

Empat pilar di atas, dapat dijadikan dasar pijakan kelola belajar santri dalam melaksanakan proses pendidikan di pesantren. Melalui format empat pilar itulah, proses pendidikan benar-benar bisa diimpikan hasilnya. Semoga! []

* Penulis: Pengajar IAI Al-Qolam Malang dan PP Raudlatul Ulum 2 Putukrejo Gondanglegi Malang.

hukum suatu perbuatan hukum, menurut syariat Islam harus diketahui terlebih dahulu sumber hukum Islam yang paling solid. Dengan memahami sumber hukum aslinya, akan lebih mudah beristimbat hukum dalam berbagai persoalan. Berdasarkan ketetapan yang paling kuat, dan diakui jumhur ulama Islam, sumber hukum dalam Islam hanyalah satu yaitu wahyu, dalam bentuk firman-Nya (Al-Qur’an), dan sabda nabi-Nya (Hadits), baru kemudian ijma para sahabat, atsarnya, lalu pendapat perseorangan diantara mereka.
Ijma ulama bukanlah sumber hukum, namun merupakan pedoman atau yurisprudensi hukum Islam, sedangkan Qiyas merupakan suatu cara berijtihad (menggali sumber hukum), jadi qiyas itu bukan sumber hukum, tetapi alat untuk beristimbat (menggali), hukum Islam.

Salah satu syarat perkawinan adalah ijab-Qabul yang harus diucap pada satu pertemuan (majlis) yang dihadiri oleh pihak-pihak yang bersangkutan, harus diucapkan oleh orang-orang yang sama hukum berhak melaksanakan akad tersebut.

Karena dalam hukum Islam ditegaskan bahwa perkawinan secara tegas dinyatakan tidak dianggap sebagai sakramen (yang bernilai ritual) melainkan sebagai perjanjian (akad) semata-mata. Rukun-rukun atau unsur-unsur esensialnya adalah ijab (pernyataan kehendak dari wali untuk menikahkan calon pengantin wanita dengan calon pengantin lelaki ijab qabul (pernyataan penerimaan dari calon pengantin pria terhadap ijab tersebut) tanpa ucapan keagamaan apapun, walaupun yang disebut terakhir ini pada umumnya dianggap sebagai syarat yang bernilai hukum tetapi para fuqaha’ di masa kini banyak yang mempermasalahkannya.

Menurut Abd al-Rahman al-Jazairi makna “satu majlis” adalah keterlibatan langsung antara wali atau pun yang mewakilinya dan calon suami atau yang mewakilinya, dalam pelaksanaan ijab-qabul beberapa ulama mensyaratkan juga hadirnya dua orang saksi, keterlibatan langsung disini berarti adanya ikut serta kedua belah pihak dalam melangsungkan sighat ijab-qabul, yang dipentingkan disini adalah bukan bersatunya individu secara fisik. 

Dengan demikian, jaringan internet atau sarana telekomunikasi lainnya bisa dikategorikan sebagai “satu majlis” jika komunikasi yang berlangsung masih dalam konteks yang sama. Dalam hal ini, konteksnya adalah akad ijab dan qabul yang disampaikan, ketakhadiran fisik calon suami tidak lagi menjadi rintangan sahnya perkawinan.

Dalam persoalan akad nikah dengan bantuan video conference para ulama berbeda pendapat menanggapi hal tersebut.

Pertama, selain dari madzhab Hanafi, para ulama berpendapat bahwa syarat orang yang melakukan akad nikah adalah semua pihak harus berada dalam satu tempat dan satu waktu secara bersamaan. Karena itu, akad nikah yang tidak dilaksanakan pada satu tempat walaupun kedua belah pihak dapat saling berkomunikasi tetap dihukumi tidak sah. Menurut Imamiyah, Hambali dan Syafi’i, akad dengan tulisan (surat dan sebagainya) tidak sah.

Kedua, madzhab Hanafi menyatakan bahwa akad nikah menggunakan alat teleconference hukumnya sah. Kesimpulan tersebut diperoleh karena menurut golongan ini, yang dimaksud dengan majelis yang menjadi keharusan dalam setiap akad bukanlah keberadaan dua orang yang melakukan ijab qabul di dalam satu tempat secara fisik. Bisa saja tempat keduanya berjauhan, tetapi apabila ada alat komunikasi yang memungkinkan keduanya melakukan proses pernikahan dalam satu waktu yang bersamaan, maka hal itu tetap dinamakan satu majelis, sehingga akad yang dilaksanakan tetap dihukumi sah.

Kalau melihat dua pendapat ini, maka yang menjadi akar permasalahannya adalah perbedaan dalam mempersepsikan syarat satu majelis sebagai syarat dalam pernikahan.

Golongan Syafi’iyah, Malikiyah dan Hambaliah menyatakan bahwa yang dimaksud satu majlis itu adalah berkumpul dalam satu tempat dan satu waktu. Menurut mereka agar pernikahan dapat sah semua pihak yang terlibat dalam prosesi akad nikah harus berkumpul secara fisik. Bahkan menurut madzhab Syafi’i walaupun pihak yang terkait dalam akad sudah berkumpul dalam satu tempat, namun bila satu di antara mereka tidak dapat melihat yang lainnya,karena gelap atau lainnya, maka pernikahan itu dianggap tidak sah.

Sedangkan dalam madzhab Abu Hanifah, yang dimaksud satu majelis ialah di mana dua orang yang melakukan akad dapat berkomunikasi secara langsung dan melaksanakan akad dalam waktu yang bersamaan. Jadi media apapun saja dapat digunakan asalkan hal itu dapat menghubungkan dua belah pihak tanpa ada kemungkinan terjadinya manipulasi. Dalam hal ini maka sah hukumnya menggunakan media untuk melaksanakan akad nikah.

Menjawab soal ijab kabul, Rifyal Ka’bah, hakim agung, menyatakan, selama dapat diyakinkan bahwa ‘suara’ di seberang sana adalah orang yang berkepentingan, maka hal tersebut sah-sah saja. Soal pengertian satu majelis, Rifyal berpendapat pengertian satu majelis saat ini tidak bisa disamakan dengan satu majelis zaman nabi.

​  Sahabat Muslim dan Muslimat di seluruh Dunia mari kita saling ber tukar ilmu disini penulis akan berbagi sedikit ilmu mungkin sedikit atau banyak yang sudah mengetahuinya, Mari kita simak bersama.

Sempat tak terganggu bersama adanya kucing liar yg datang jelang kita? Paling Sering kucing-kucing liar masuk ke dalam rumah & jelang kita, terutama diwaktu kita sedang mengambil makanan. Mereka mengeong seperti mengemukakan bahwa mereka mau meminta makanan dari kita.
Bisa Saja bagi para penggemar kucing, mereka tak dapat keberatan buat memberikan sedikit dari makanan yg dipunyai buat kucing tersebut. tetapi, bagi orang yg tak senang kucing, bisa saja mereka bakal menendang kucing tersebut atau melemparinya dgn sandal.

Ketahuilah, bahwa kucing tersebut datang terhadap kita bukan tidak dengan tujuan & karena.
Berikut 3 lantaran kucing datang terhadap kita, & waktu mengetahuinya kita bakal merasa amat merugi seandainya tidak berikan makan kepada kucing tersebut.

1. Allah sedang beritahu makanan kita, hak kita itu bukan semuanya rezeki kita. Sebahagiannya rezeki kucing itu. maka itu dirinya datang kepada kita.

2. Allah sedang beritahu seandainya kita berikan makanan terhadap kucing itu, rezeki lain bakal Allah ubah yg lebih baik. Karena 1 kebaikan itu Allah balas 10 kebaikan. Allah maha dapat berikan lebih dari itu.

3. Allah sedang bagi tahu bila kita tidak berikan makanan terhadap kucing itu, sebenarnya kita sedang menolak rezeki baru yg Allah memberi pada kita. Rezeki itu luas bukan cuma terhadap duit.
Tapi meliputi seluruh kehidupan. Mau ikhlas berikan, berilah kepada hewan dikarenakan hewan tidak pandai mengucapkan makasih pada kita. Beliau cuma tahu minta & makan

Semoga artikel ini bermanfaat buat para pembaca sekalian, silahkan di share ke saudara – saudara muslimin..

kisah

Ada seseorang perempuan keluar rumah dengan tujuan untuk memperoleh pelajaran islam dari Nabi S.A.W bersama para sahabat lain. Di pertengahan ada seorang lelaki yang masih muda melihatnya, Ia bertanya:

”Hai perempuan yang mulia, hendak kemana kamu?”.

Ia menjawab:

”Aku hendak menghadap Rasulullah S.A.W untuk mendapatkan pengajaran dari beliau”.

Balas pemuda :

”Apakah dirimu cinta benar terhadap nabi S.A.W?”.

Ia menjawab:

”Ya, Aku sangat mencintainya”.

”Kalau kamu benar-benar cinta kepada Rasulullah aku minta supaya engkau membuka cadarmu, agar aku bisa melihat wajahmu”. 
Manakala anak muda itu bersumpah-sumpah demi kecintaan perempuan itu kepada Rasulullah S.A.W, maka perempuan itu tadi membuka cadarnya, Anak muda itu dapat melihat dengan jelas wajahnya. 
Setelah kembali dari pelajaran agama, perempuan itu tadi memberi tahu pada suaminya tentang peristiwa yang di alaminya bersama seorang pemuda, ketika suaminya mendengar penuturan cerita istrinya maka hatinya bimbang:”Hal itu perlu di uji kebenarannya. Agar aku puas dan jelas persoalannya”. 
Lalu suami perempuan itu membuat perapian yang sangat besar dimasukkan kedalam tungku. Tungku itu biasanya di gunakan untuk memasak roti, yang menyerupai sebuah kentongan. Suami perempuan itu menunggu beberapa saat agar api membesar. 

Ketika jilatan api telah membesar maka suaminya berkata:

”Demi Kebenaran Rasulullah S.A.W, masuklah kamu kedalam tungku itu!”.

Begitu istrinya mendengar suaminya bersumpahyang meminta dirinya agar masuk kedalam tungku yang membara, tanpa ragu ia masuk kedalamnya. Ia tidak memperdulikan lagi nyawanya demi kecintaannya kepada Rasulullah S.A.W. 
Manakala suami perempuan itu melihat isterinya benar benar masuk kedalam tungku dan lenyap di selimuti jilatan api, timbullah penyesalan di dalam hatinya. ia menyadari behwa apa yang di katakan itu benar, maka suami perempuan itu tadi menghadap Rasulullah S.A.W. Ia menceritakan kejadian yang berlangsung. Nabi S.A.W bersabda:”kembalilah. Bongkarlah tungku itu”. Ia segera kembali dan membongkar tungku itu yang masih padas, ternyata di balik tungku itu ia menemukan istriny a dalamkeadaan selamat tanpa kurang suatu apapun. Hanya sekujur tubuhnya basah oleh keringatnya sendiri, bagaikan orang yang sedang mandi air panas. 
Wahai Allah, Jadikanlah kebaikan kepada kami, keluarga kami, anak cucu kami dan segenap kaum muslimin. Segala puji bagi-Mu ya Allah, Tuhan semesta Alam. Segala puji bagi Allah, Dzat yang telah menyempurnakan berbagai kebaikkan dengan nikmat-Nya, dan dengan anugerah-Nya kita berbahagia memperoleh syorga. 
Shalawat dan salam selalu terlimpahkan kepada junjungan Kita Nabi Muhammad S.A.W, dan semoga terlimpahkan pula kapada keluarga, sahabat, dan istri-istrinya selama masih ada langit dan bumi.
Segala puji bagi Allah sendiri-Nya. Tidak ada daya dan kekuatan selain dengan daya dan kekuatan Allah Yang Maha Tinggi lagi Besar. Cukuplah Allah menjadi penolong kita dan memberi kenikmatan kepada kita……. . Amiin 

Hidup sambil mati Mati dalam hidup

Pastikan setiap langkah dan nafas kita adalah ibadah

Titik penting seorang salikin yg sedang berjalan menuju Alloh SWT adalah ketika ia telah sampai pada maqom fana’. Sebuah keadaan dimana ke-diri-an (kehambaan) seseorang telah “tiada”. Dlm situasi demikian bagi salikin yg bersangkutan tdk ada lagi yg hidup kecuali Alloh SWT, dan sirnalah semua yg tampak.Yg dimaksud dgn fana’ (hilang) di sini bukan fana’ fi al-jism atau fana’ secara lahiriah. Tapi fana’ secara maknawiah, yaitu fana’ atau hilang dari wilayah akidah. Fana’ fillah dgn baqo’ billah. Fana’ fillah konsep dasarnya adalah “Laa ilaaha Illa-Alloh”. Semua hal hanya untuk diri-Nya dan tdk untuk yg lainnya. Sebagai bukti konkret orang yg telah fana’ adalah ia senantiasa meyakini konsep “laa hawla wa laa quwwata illaa billaah al-‘aliyy al-adzim”. Tak ada kekuatan diri, tak ada kemampuan diri, kecuali kekuatan dan kemampuan diri Alloh SWT. Pada diri Rosululloh SAW kondisi fana’ tampak pada periode Mekkah. Semua ketakwaan beliau dan berbagai mukjizat yg terjadi selama periode Mekkah merupakan bukti kuat akan hal itu.

Seorang salikin yg tengah fana’ tampak jelas dlm sifat kesehariannya. Berbagai emosi dan reaksi negatif yg biasa bersemayam dlm diri telah berubah menjadi sebaliknya. Tenang, kuat, dan sabar ketika menghadapi gelombang kehidupan merupakan bukti kuat bahwa seseorang telah fana’. Bahkan, ketika dicaci-maki oleh banyak orang pun ia tdk serta merta balas memaki atau membenci. Krn baginya yg penting Alloh SWT tdk murka dan membencinya. Konsentrasinya hanya pada Sang Kholik. Semua yg dilakukannya senantiasa berangkat dari kesadaran kehambaan yg harus senantiasa memiliki catatan baik di sisi Alloh SWT.

Dlm keseharian, orang yg fana’ sepertinya tampak masa bodoh dan asyik dgn dirinya sendiri. Berbagai hal di luar dirinya hanya mendapat sedikit perhatian dan sedikit memberi dampak padanya. Bahkan ketika ia tengah dlm keadaan serba berkekurangan, ia tetap bergeming. Ia tetap bersyukur dan senantiasa mengucap alhamdulillah.

Fana’ bagi seseorang yg belum berkeluarga barangkali tdk menjadi masalah. Tapi lain halnya bila ia telah menikah atau bahkan harus menanggung jawabi orang seisi rumah. Krn sikap kesehariannya terkesan santai dan tdk peduli, sudah barang tentu membuat khawatir banyak orang. Meski, sesungguhnya fana’ yg benar adalah fana’ yg tetap pada kesadaran kemanusiaannya, dan tetap sadar pada tanggung jawab sosialnya.

Seseorang yg masih termasuk dlm kategori seorang salikin, fana’-nya masih kerap tdk stabil. Ia sering fana’ hanya untuk hal-hal yg enak baginya, tapi tdk fana’ ketika menghadapi hal buruk yg tdk sesuai dgn kehendak hatinya. Krn itu, agar fana’ yg terjadi pada seorang salikin adalah fana’ yg benar menurut agama dan fana’nya stabil, dibutuhkan bimbingan seorang Mursyid. Tdk hanya fana’ ketika dlm kesenangan, tapi juga mampu fana’ dlm kesulitan. Krn fana’ dlm bimbingan seorang Mursyid adalah fana’ yg terstruktur, yakni dgn ilmu dan amal yg disebut jalan mutawasith (pertengahan). Sehingga yg terjadi adalah fana’ yg tdk membuat orang disekelilingnya menjadi gelisah dan marah. Krn ia tetap hidup normal dan menjalankan kewajiban sosialnya dgn baik, namun orientasinya tetap pada hati nurani.

Zaman dahulu, proses fana’ dilalui lewat berbagai proses yg terkadang sulit diterima oleh akal, seperti kholwat di gua hingga ditidurkan selama ratusan tahun. Namun tentu saja hal itu bisa terjadi krn situasi dan kondisi zamannya memang berbeda dgn skrg. Maka, proses pembelajaran dan laku olah spiritualnya pun berbeda. Contohnya, di zaman skrg bayak orang lebih mengutamakan syari’atnya daripada tauhidnya. Sehingga, akhirnya keislamannya pun hanya di permukaan, tdk menyentuh keislaman yg mendalam, Islam yg sesungguhnya.

Tantangan lain, kalau dulu orang melakukan kholwat dgn jalan menyendiri di tempat2 sepi seperti di gua, maka sekarang orang dituntut untuk bisa kholwat dan ‘uzlah di tengah2 masyarakat ramai. Artinya, hati kita tetap terpaut dgn Alloh SWT meski fisik jasmaniah kita sibuk dgn kegiatan kemasyarakatan, bekerja mencari nafkah, dan kesibukan mengurus keluarga.

Harus disadari betul bahwa yg kholwat itu adalah kholwat hati bukan jasad. Dan kesadaranpun harus terusdijaga, bahwa pengamalan ma’rifat, pengamalan hakikat, dan pengamalan aqidah merupakan bagian dari perjalanan kita menuju Alloh SWT, dan kemampuan kita melakukan kholwat juga merupakan anugerah-Nya. Maka, semua itu harus dikembalikan kpd Alloh SWT. Jadi, yg kholwat itu benar2 bukan jasadnya, melainkan hati dan pikirannya. Hati harus senantiasa menghadirkan Alloh SWT, belajar pada setiap keadaan, dan belajar pada setiap persoalan, serta mengembalikan semua yg terjadi pada Alloh SWT. Bahkan, bagi seorang mursyid pun kholwat juga merupakan anugerah. Tdk ada seorang pun yg bisa kholwat kalau bukan krn mendapat anugerah-Nya.

Kata Syaikh Abd al-Qodir al-Jailani, banyak orang yg tersesat oleh jin dan iblis ketika berkholwat. Hal itu bisa terjadi krn minimnya ilmu pengetahuan dan tdk mendapat bimbingan dari seorang Mursyid. Syaikh Abd al-Qodir al-Jailani demikian khusyuk dan bergeming ketika tengah ber-kholwat meski digoda oleh iblis. Hanya Alloh, Alloh dan Alloh yg memenuhi ruang batin beliau. Keyakinan bahwa bukan ilmu yg ada padanya yg memberinya kekuatan, namun Alloh SWT lah yg memberinya kekuatan dan kemampuan. Akhirnya, beliau pun selamat dan berhasil menyelesaikan kholwat-nya dgn baik.

Di zaman yg serba sibuk skrg ini, kita tdk perlu melakukan kholwat munfarid atau kholwat di suatu tempat yg sepi. Kita justru dituntut mampu melakukan kholwat hakiki (di dlm hati). Hati senantiasa memandang kpd Alloh SWT meski fisik jasmaniah sibuk menjalani hidup keseharian.

** Kholifah **

Hakikatnya, manusia adalah kholifah Alloh SWT di bumi. Namun, tdk sembarang orang bisa disebut kholifah. Yg bisa benar2 di katakan kholifah adalah mereka yg sudah “sampai” (secara iman-hati-piki-ran) kpd Alloh SWT. Sedangkan mereka yg belum sampai belum pantas menyandang kholifah, krn berarti ia belum punya bekal sebagaimana Nabi Adam AS yg diberi bekal oleh Alloh SWT nama2 di bumi dan di langit. “Barang siapa yg ma’rifatulloh maka tdk ada sesuatu apa pun yg tersembunyi di langit maupun di bumi.” Artinya, ia paham dgn basyiroh al-qolbi maupun ladunni. Bahkan, bila ada sesuatu yg tersembunyi dia paham, apa yg belum terjadipun dia tahu krn ia diberitahu oleh Alloh SWT. Itulah ilmu ladunni.

Ada pula orang yg disebut ‘Alim al-Robbani, yaitu orang yg ‘alim (paham-ahli) dgn Tuhannya, bukan ulama lahiriah. Seorang ulama lahiriah biasanya hanya mampu membaca kitab, sedangkan seorang professor biasanya hanya fasih berwacana tentang agama maupun tasawuf (ia tdk mengamalkan secara mendalam). Berbeda dgn orang yg ‘Alim al-Robbani, yg diberi ilmu ladunni oleh Alloh SWT, yg setiap saat membutuhkan ilmu dgn mudah ia memperolehnya, namun sembari tetap mengembalikan semua ilmunya kpd Alloh SWT. Orang semacam itu tdk pernah kehabisan jawaban. Semakin banyak orang bertanya padanya, makin mudah ia menjawabnya.

Orang yg ‘Alim al-Robbani juga orang yg sosoknya low profile (rendah hati). Ia tdk akan mengumbar kata2 kalau tdk ada yg bertanya. Kecuali pada waktu2 tertentu ketika ia menjalankan rutinitas tugasnya sebagai ulama. Seperti Rosululloh SAW yg tdk akan mengeluarkan (ilmunya) bila tdk ditanya oleh ummatnya. kecuali ketika beliau harus menyampaikan wahyu. Makanya, semua asbab al-nuzul dan asbab al-wurud Al-Qur’an dan Al-Hadis itu merupakan hasil pertanyaan dari para sahabat. Begitu juga orang yg dekat dgn Alloh SWT. Ia akan diberikan ilham yg sifatnya setingkat dgn wahyu, dan firman Alloh akan jelas dan gamblang apabila penjelasannya didasari oleh ilham. Cara Alloh memelihara Al-Qur’an tdk sebatas penjilidan. Krn penjilidan bisa dilakukan oleh siapa saja. Tapi pemahaman Al-Qur’an hanya bisa dilakukan oleh orang2 yg bersih hatinya dan diangkat oleh Alloh SWT. Sebagaimana janji Alloh SWT, “Kami yg menurunkan Al-Qur’an dan kami yg memelihara.” Maka Alloh SWT menurunkan orang2 yg diisi hatinya dgn ilham untuk mengurai Al-Qur’an yg sesungguhnya bukan semena-mena dlm bentuk ta’wil.

** Ilham **

Turunnya ilham itu sama seperti wahyu. Terkadang mudah dan nikmat, terkadang diterima dgn rasasakit di kepala, dan lain sebagainya. Wahyu dgn ilham tdk berbeda jauh. Bedanya kalau ilham itu tdk boleh ditulis krn akan mengganggu, sebagaimana Rosululloh SAW yg tdk pernah menyuruh sahabat untuk menulis hadis, meski bila para sahabat menulis pun tdk apa2, krn bukan merupakan sebuah larangan keras.

Setiap salikin dianjurkan untuk menimba ilmu dari yg “hidup”, artinya ia menimba ilmu dari seorang mursyid. Sebagaimana Abu Yazid menyatakan, “Hai kamu, mengambil ilmu dari mayit ilal mayit. Kamu ambil ilmu dari buku (benda mati), kemudian diajarkan ke orang dan orang itu juga mati, maka ilmunya tidak akan berkembang dan tidak ada berkahnya.” Krn yg benar adalah mengambil ilmu dari yg “hidup” yg tdk pernah mati. Banyak ulama yg belajar dgn, katanya. Katanya kitab ini, dan katanya kitab itu. Dan, bagi siapa saja yg mengajarkan ilmu dan dia merasa bisa mengajar-berarti dia hamba, dan hamba itu mati. Lain halnya seorang Mursyid, yg tdk pernah merasa memberi sesuatu (ilmu), dan tdk pilih kasih pada murid2nya. Semua salikin diperlakukan sama dan mendapat perhatian serta kasih sayang yg sama darinya.

Blog di WordPress.com.

Atas ↑